Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2011

Analogi dari Sebuah Pensil



Seorang anak bertanya kepada neneknya  yang sedang menulis sebuah surat : “ Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya ?Ataau tentang aku ?”
Mendengar pertanyaan cucunya, nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “sebenarnya nenek sedang menulis tentang Kamu, tapi ada yang lebih penting dari tulisan ini yaitu pensil  yang nenek paki. Nenek harap Kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti.
Mendengar jawaban itu, kemudian cucuc melihat pensilnya dan bertanya kembali pada neneknya karena ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tetapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil-pensil lainnya, “ujar cucu. Nnek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.”
“Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bias membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu dalam hidup ini.” Nnek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
kualitas pertama, pensil mengingatkan kita kalau kita bias berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuahpensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini yaitu  Alloh SWT, Dia akan membimbing kita ke arah jalan yang lurus melalu petunjuk-Nya, Al-Qur’an dan Al Hadits.
Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenk kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu pula dengan kita sebagai manusia, dalam hidup ini kita harus tegar, ikhlas dan sabar menjalani cobaan-cobaan-Nya, yang kadang memang tersa berat. Seseungguhnya dibalik semua itu Alloh telah menguji tingkat keimanan kita, dan sebagai bukti Alloh menyayangi kita. Lewat ujian-Nya kita menjadi lebih tegar dan lebih kuat dalam menjalani hidup ini. “
Kualitas yang ketiga, pensil selalu memberikan kita kesewmpatan untuk mempergunakan penghapus untuk memperbaiki apabila terjadi kesalahan. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bias membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.”
Kualitasas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada pada bagian dalamnya yang biasa kita gunakan untuk menulis. Dan kita apabila menggunakan pensil harus hati-hati agar bagian dalamnya tidak patah. Oleh karena itu berhati-hatilah menjaga bagian diri kita, hati kita menentukan tingkah perilaku hati. Maka jagalah hati, jangan kau kotori*lagu dari Opick.”
Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperi juga kita, kita sadar kalau apapun yang kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan yang kita lakukan. “

Di balik Doa SANG JUARA


Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu. Sebab ini adalah babak inal. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mbil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak  bernama Mark. Mobilnya tidak istimewa, namun ia berhasil masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark la yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.
Yah memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua . Sebab mobil itu benar-benar buatan tangannya sendiri.
Tibalah saatnya inal yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, unuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.
Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak seperti berkomat-kamit, ternya si kecil Mark sedang berdoa. Dengan mata terpejam dan tangan menaengadah ke atas Farid nampak khusyuk berdoa. "Yaah InsyaAlloh aku siap, Bismillahirrohmanirrohim.."

"Dor"
Bunyi bel, tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan jagoannya masing-masing. Ahhaa... akhirnya putaran terakhir, tali lintasan finish pun terlambai. Dan Faridlah pemenangnya, sang juara. "Alhamdulillahirobbil'alamin" lirihnya pelan.
Saat pembagian piala tiba. Farid menuju depan dengan bangga sekaligus masih tak percaya bahwa ia adalah pemengnya, semburat air mata mengalir dipipinya. Air mata bahagia.
"Hai jagoan, pasti kamu tadi sebelum lomba berdoa pada Tuhan agar kamu bisa menangkan. Tuhan ernyata mengasbulkan doamu!", tanya ketua panitia. "Bukan, Pak bukan itu yang aku minta tadi, aku tadi memang berdoa. Rasanya tidak adil meminta Alloh untuk mengalahkan orang lain. Aku hanya memohon pada Alloh, supaya aku tak menangis jika aku kalah, itu saja." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan memnuhi ruangan.



RENUNGAN
Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksann dibanding kita semua. Fahri tidaklah memohon pada Alloh untuk menang dalam setiawp ujian. Fahri tak memohon Alloh meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Alloh mengabulkan semua harapannya. Ia tak  berdoa untukmenang, dan menyakiti lainnya. Namun, Fahri memohon pada Alloh agar diberi kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberi kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa ikhlas.
Munhkinn telah banyak waktu yang kita lakukan untu berdoa pada Alloh untuk mengabulkan doa kita. Terlalu sering juga kita meminta Alloh untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Alloh untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukanka yang kita butuhkan adalah bimbngan-Nya. tuntunan-Nya, dan Panduan-Nya.